[ Mini Kiebo ]
Server: Windows NT DESKTOP-5B8S0D4 6.2 build 9200 (Windows 8 Professional Edition) i586
Path:
D:
/
Download
/
[
Home
]
File: audio1483050138.txt
Selamat malam ini, saya Haura Mohon Cara, mengenai disertasi yang berjuduh ke pemimpinasi situasional dalam pengambilan keputusan, pimpinan berguruan tinggi untuk meningkatkan kinerja dosen. Jadi kurang lebih ada 20 pertanyaan, nggak apa-apa ya, Bunda? Kalau bisa, jangan, kalau melakukan tu gula ya. Apa yang lebih jalan? Manga, apa yang berada? Yang pertama, Bunda, apakah Bunda memberikan tugas secara jelas, spesifik dan terukur, kira-kira contohnya apa gitu, Sunda? Ya, seorang pemimpin itu, kita berbalik dengan teori-tori, itu pake tips, tablet, yang bisa. Ya, itu memang kita menuju, memastikan, kita akan memakai teori apa. Sudah, kita sepakati suatu konsep, kalau kita bukan aurap perutinya, situasionalnya dan dalam penerapan dasar daripada ke pemimpinan kita. Tentunya dalam permasahan, kita harus mendengarkan dari semua pihak, seperti dari awal tadi, yang punakatakan bahwa sebenarnya memakai kumbain antara teori dengan situasional di depan, dimana kita bekerja. Tadi, kalau punas sampai kan, bahwa berasalkan dan mutlasi terpimpin dan penuh ke keluargaan, memang tidak mendengarkan azas disiplin dan kita mempungun 17 yang jelas. Tentunya di dalam seleksi karyawan, kita melihat juga, dengan siapa yang kita berhadapkan ini. Karyawan ya, dan permuset musen. Jadi kalau seleksi pertama penerimakan seorang karyawan, keinginan kita adalah yang kita cari itu siapa. Orang itu kaya tepat untuk mendampingit kita bekerja. Cakap ke termasuk-termasuk semuanya, jadi bunda memakai teori, itu namanya dimenakrasi di depan ke keluargaan. Jadi tetap kita demokrasi, silakan memberi input sebanyak-banyaknya dalam satu proses. Dan tentunya, nanti outcapnya adalah kita melihat dengan jelas apa yang menjadi keinginan dasar lebih kita. Satu. Bunda menganut, beberapa secara umumnya, salah udung-udung. Bunda pegang. Dan penuh, juga, disiplin. Ya, kita memakai azas tentunya dengan nilai, nilai yang kita pegang ini, seperti nilai geologis, nilai ex hukum, nilai daripada esatik kita, dan nilai logis rasional dan juga nilai fisrogi, dan juga semuanya celogi. Dalam suatu, hadis, kita berpegang tegu, dalam hadis itu adalah menurut arah senja, seneram, itu ada di situ. Bawa kalau kita itu mau sukses, silakan pada ahlinya, tapi kalau kita tidak memegang itu, ya, nanti, lambar laun itu akan hajur. Menengang kita lepas. Ya, itu, kita katakan pada landasan, landasan, filosofis kita. Ya, kita menganut apa dulu, kita harus paham. Manajemen kita, kita pakai sebab apa? Banyak beberapa teori, itu, kita anut, seperti, kalau Bunda, di situ semua, dengan pendapat William James, John Dewey, dan sebagainya. Termasuk orang Indonesia, ini adalah game, siapa namanya? Benyamin dan sebagainya itu, ya? Teori-tori itu. Ada suatu firman Allah, menyatakan bahwa, walaupun kita itu pelexibel, di dalam segala hal kita peksibel. Kita tidak boleh juga otoriter, karena kalau otoriter, nanti akhirnya akan timul suatu yang kekerasan kita mengajarkan karyawan kita keras. Betoriter juga ke bawahnya, nanti. Kita harus juga pelexibel, tolleran bersikap terbuka. Dan kita memberi contoh, yang terbuka, yang tidak otoriter. Kalau kita itu otoriter, akan ikut orang, ke bawahnya, kalau Bunda, ya? Jadi, terbuka, transparan. Saya itu pengennya begini loh. Di dalam teori ini, di pegang oleh tenaga, tenaga ini. Kalau kita tenaga, tindak kali, kita sudah aling, gimana caranya? Pana firman Allah, ayat al-Jumuah, menyatakan bahwa, kita harus dengan siapa kita berhadapan terbanglah, kemana perginya, asal di bawah, tentulah Allah, Subahan Allah, miscaya keberuntungan, akan beri oleh Allah. Asal kau berjalan di atas, perintahku, dan jalanku. Tak, Allah. Nah, Bunda berpegang seperti itu. Oke, mungkin ada lagi yang berlanah. Ya. Kalau misalnya, ini Bunda, kalau di yang Bunda terapkan itu, di sana, udah ada rencana kerjanya, terus pengawasannya, di lakukan secara berjengjang, sama kira-kira ada, itu gimana bunda? Yang Bunda terapin? Yang Bunda terapkan, baik itu dibakti per TV, bunda jadi ke tuas dike setiga priori, baik ketua yang sang, mopun diapnot juga, bunda pernamakan itu, ketiga-tiga perusahaan secaranya tak. Kita tidak hanya bisa teori, tapi bisa prakteknya. Kita lihat Outcamnya seperti apa? Tiga komponen itu tidak bisa lepas. Kalau kita kecuman ngomong aja, kita tidak tahu lapangan, tidak kita praktekkan. Rasanya, ya termasuk boleh dikatakan, omdodo orang. Oh, dari penas. Oh, ini mau dipinapkan cukup ini, apa mau cukup tablet? Apa-apa? Udah, yang mana tidak pakai ini? Kecil. Yang mana tidak pakai tablet? Tadi belum ya? Mula bisa. Olehnya sebenarnya. Udah ini saja ya? Tak pakai tablet. Itu kalau bunda seperti itu. Ahamdulillah, kita menerapkan itu, bukan satu yang omong kosong, tapi kenyataannya sudah kelihatan dengan gelas. Dengan tidak ada moda asal kita bersatu, atau asal kita tadi bunda katakan itu dari awal. Itu kegangan kita di itu. Teorinya, pelan suara, dan usi pelin, kerja keras, yang di bawah juga kita rancum, sehingga kita bisa bekerja sama dengan baik. Jadi mereka itu penuh tadi awal bunda katakan, kita bekerja penuh ke keluargaan. Saling butuh, bukan di belakang, nanti yang grutu, kita pengen menjalin dimana pun rasanya kita damai, dimana pun rasanya kita tenang, karena kita berdasarkan, firman awal, tadi bunda katakan, kita berdasarkan firman awal. Sesuatu itu kita meletakkan pada yang kometan, kalau biasa namanya kometan ya, kometan, dan juga seorang menijemen yang baik, tetapi kitanya harus perlihatkan transparent kita, dan harus keterbukaan kita, dan juga kita, ya ada juga flexible, kalau kita salah, kita katakan kita salah. Tidak salah lu ini benar, karena kita siapatnya manusia. Ya. Nggak bisa kita, oh, kamu guna- guna- guna- guna- guna. Nggak bisa kita salah benar. Kita mengakui, oh ya, kamu bagus ya. Pinter, hasil-mu bagus. Manusia itu kan butuh itu juga. Walaupun dia orang bawahan, bahkan bantus, kalau ada masaknya enak ya, bagus ya kamu bisa itu. Seperti itu kita juga boleh memuji di kala itu memang penyataannya. Kalau bunda ya, seperti itu, nah tentunya kita ini pasti, kalau kita sebagai pimpinan, kalau bunda-bunda, akan membagi habis, setelah itu buna evoluasi. Supaya dia juga pitang, kita nggak ngejar-ngejarin dulu, lukapet. Bicapet, kan ngejar-ngejar, apa kita lihat? Kita lepas. Ini, ini, ini, ini, ini kita kasih teori, mau nyogini ini ya, kamu ini ini ini ini, ini bagi tugas, habis-bagi tugas. Setelah itu, hasil berapa minggu kata evoluasi ini? Nah, kalau hasilnya setiap evoluasi, terus kita kasih kepercayaan. Orang itu butuh juga kepercayaan. Kalau kita ngepercaya, misalnya kita lagi-kita lagi, ya kapan mereka mau pandai, kalau dosennya, kapan mau pandai? Itu kalau bunda. Ya kita capek sendiri, akhirnya. Nah kita juga, berapa persen, berkeberhasilan di sini? Kita kan menatahnya. Tapi bunda bilang kan sebagai prinsip dasarnya itu agak, dasarnya itu, seperti itu akhir-akhirannya, kalau bunda, teori-tori yang tadi bunda, kita juga, ya sedikit, pronggisis, bismanya itu dengan kemajuan, kita sendiri, kita juga melihat, dan juga, anak-didi kita melihat, melati, kita yang ujian, kan itu kan evoluasi, namanya ujian itu kan evoluasi. Nah kita lihat bagaimana hasilnya, oukannya, apakah di terima? Di rumah sakit, apakah di terima dia, di mana-mana prateknya, obidan dan sebagainya, umbakannya itu ya, dan juga, apakah dia ujian, bisa, dan itu suatu evoluasi dari kita. Dari mana evoluasi kita, dari kepandaan dia, kita yang aplikasikan ilmu ke dia tadi, kita mengevoluasi, itu kalau pada ini ya, pada, di-didi kita, ini orang ikut, ngasih omongannya, misalnya omongannya kita ini, dia kalau dia ikut, pasti dia ngerti, apa yang kita omongin berk, kalau dia gak mau ikut, ya, kita sebenarnya pada prinsipnya, kita itu, ya, kita katakan tidak, itu harus berani, tidak lulus, misalnya kalau dia nyalur, walaupun karena kita sudah mencoba, mencoba, mencoba, untuk dia lulus. Namun, hasilnya belum lulus. Nah, kita gak apa-apa her kalau menurut bunda, hanya keberhasilan tertunda saja, karena itu pun seperti itu. Nah, pada prinsipnya, kalau seorang pimpok-pimpin, itu mempunyai teras. Mempunyai, kemahuan, kekeras, gak bisa, kita harus disiplin. Kalau evolos, berapa lama? Evolos, evolos, evolos, kita menilai, bahwa kerjaan kita itu, yang tadi dari awal gunakan-katakan bahwa kita melirapkan system diapa. Nah kalau kita melirakan system, ya kita milik ini, siapa kita tahu dah sarnya, kan? Keinginan kita itu apa? Nah, itu lah, dalam kontek menajemen, kita harus berpenggantung, terus meningkatkan, ilmu terus meningkatkan pembelajaran kita ini, tentunya dengan cara yang tepat, supaya, nemajul, supaya, padamung ikut. Perti itu lah, kira-kira ada kalau bunda, ya? Oke, apa lagi, munitanya? Ini, dua payah, ya? Nah, pada satu, waktu itu kan ada sesuatu yang darurat ni, bunda. Masutnya, yang harus diambil keputusan cepat, kan? Nah, kira-kira, apa yang ada ga? Yang udah bunda, lasanakan gitu. Oh, tanpa pertimbangan, masih beberapa pertimbangan, tapi bunda harus memutuskan hal tersebut gitu. Kira-kira apa bunda yang udah diputuskan? Iya. Kalau bunda sering itu, ya? Dalam sikap kita, dalam dimana nih, contohnya dimana di kampus, di kampus, ya? Iya, di kampus. Di kampus, ya? Iya, di kampus. Peringatkan pertama, kita memmotifasi seorang karyawan, kita kan harus menyakitlah IQ sesuatu kan, tidak semuanya percaya lebih dari suatu sebuah misalnya tinggi dan semakin kemort lagi kebanyak, tapi kita ingin mendidik mereka, misalnya ya? Kita harus berani di suatu sikap, mau siapa aja? Jangan ada kekuargaan itu, masuk ke situ. Tidak posit, tidak objectin. Kalau dalam sikapnya kita kekuargaan yang kita pakai, udah. Udah, disitu. Karena kita gak objectin penilainya. Kalau bunuh sendiri, bunuh orang profisional, bunuh tidak ingin itu, dicabur aduhkan. kalau ya, katakan tidak, ya tidak. Katakan dia, kamu harus belajar lagi, dalam menajemennya, kan gak bisa. Dan lepas kan dia, itu lepas jatkan, oh, oh, oh, oh, ayo, ayo, diimangin-imangin, diimangin-imangin dulu, kapan tintarnya, bunuh gak? Iya, bunuh dari dulu, tidak, oh, tidak suka. Jadi, kesimpulannya yang guna bilang, dia harus mendiri pertama itu. Dia harus mendiri, kita harus tegas. Ternyajar itu, gak bakal, ngeajar-ngejar mulu. Kita juga, ummm, mau melihat, mau ngejar, kita mau mau mulu-ulu gitu. Lepas kan dia, dia akan belajar dengan teman, berinteraksi dengan, kamu belajar main, pintar. Jangan bergauh sama ayak itu, itu juga kamu, akan ikut, persabatan yang, yang hancurkan. Iya. Sudahkan pintar, itu itu mulu, dia omongin kan. Banyak contoh di kampus itu, seperti itu, tidak ada gang-gang. Gak bagus. Gak ada gang-gang itu, gak bagus. Dia objektif akhirnya. Iya. Ya mungkin kalau pergi, ya wadah-wadah, tapi dia liat, dah mendukkarta, kuri apa, karakter apa dia, dan sebagian juga, seorang pemimpin juga, harus tahu, gang-gang tidak bagus. Dari bunda osis, bunda tahu, gang-gang tidak bagus. Dari bunda, jadi pernah, jadi osis, pernah jadi, gak, tidak objektif penilayan kita. Ehnya berpihat, karena teman. Kita seorang pemimpin, kita harus berani mengatakan itu. Kalau dia siapapun, terus kalau keluarga, kalau kita, gak bagus, gak objektif. Jadi berbalik-balik di akhirnya. Kalau dah masuk ke tengah itu, rapon. Ya kalau ya, ya kalau tidak, tidak. Kamu harus berajar lagi, harus berani kita mengatakan, harus berani juga mengambil dikala itu, dia salah. Kalau bunda, kalau salah satu, dua, di proakarta, kamu gak bisa kerja. Kuarkan, peringatan pertama. Banyaknya puna rakyatkan, tidak cocok. Kuarkan, peringatan kedua. Dah, panggil ananya. Atau, sekarang bunda lagi, melihat mengahmatis seorang di MS-2, bisa ngapak juga kan, kita bukan berasa-repesen, yang bisa kerja. Gak ngerang. Nerti, gak ada omongin. Kalau bunda. Gak apa, sekarang nih, udah, tapi, ngamun, kita juga mempunyai, ininya, satu, dua, dia di sana ya, terseretulis. Sampai kedua, dia tidak bisa panggil di sokol, kenapa nya orang? Kan, ada waktu direktor kamu, ini, ini, ini, ini. Kaya gini. Onggak, nanti, bisa dikewakan. Karena, kan banyak orang, itu macam-macam, ya? Kalau seperti itu, kalau ketabisnya, membawa seperti itu, insyaAllah, kita akan, selamat. Karena kita mencari, bibit-bibit, yang memang, mampu, berkerja. Ya, seperti itu, kita, apa lagi? tiga, tiga. Tiga. Karena, nyambungkan, ini muda ya, nanti, apa, apa langsung aja, ni, karena, yang muda, langsung muda jawab, tadi, kita sama, ya, apa tadi, Evaluasi kan, ya, muda ya, kan? Proces Evaluasi itu, berarti, dilakukan, berjejan dari, luadir, gitu. Atau gimana muda? Dan, sampai ketahapnya bunda itu, apakah memang muda, sampai peringatan satu, dua-tiga, atau bagi mana, procesnya bunda? Ya, jadi itu, soal itu, proces itu memang, ada susah, ada manjang, makan yang bunda bilang, jangan masuk, bahwa, masuk, saudara, profesional, profesional. Profesional, kita ternyata. Gak kan, tapi, kita contoh kan, profesional, kita itu. Ya, nah, terus, kita melakih ni bahwa, ada yang kita inginkan itu, adalah, dan sering tadi, bunda bilang, ketukhanannya, kopetensinya, dan sebagai intari, yang bunda bilang, itu terhukum, berapa kita terapan itu? Tetapi, Evaluasi itu kan, kalau muda pribadi, melihat itu, paling ramah, kalau sudah bisa menjatuhkan orang itu, 30 sampai 69. Apa ya, kita dari absensi, kita lihat, tadi kejang, nggak benar-benar, kan? Ya, kita, nggak tertilai, ya, kejang ini, kejang ini, itu yang berasnya apa, itu kan? Ada, kan? Kamu bikin umur, nggak bere-e-e-e. Diga sama 69 selesai. Kenapa ada pelihara yang seperti itu? Ya. Kalau memang tidak bisa, di luar, toleh yang silagi, itu ya? Ya. Bunda bergede kalau orang, yang nggak gitu, nggak suka. Sejualnya ada hal-hal yang, sedikit, sedikit kita membuat kita, terima kasih. Jadi, ya, pertimbangan ini tadi, seperti itu, dirakiranya seperti itu. Kalau nggak bisa diluruskan lagi, ya, kita nggak bisa benar-benar 4% ini. Orangnya, kan? Kita evolossi kita kasih poin-poin, bukan? Sepetiannya. Itu kalau nggak biar, di dalam ketemu dengan Bunda, ya, ya, nggak mau orang-orang amat. Pertanya, kalau nggak ada amat-orang amat, ya, ya, bensih itu lagi, ya, apa lagi? Tapi, kalau misalnya, dia dah terlanjur, karena Bunda. Basutnya, kanakan, kalau dosen itu, kan kinerjanya, dia naik turun, kan? Nah, apakah Bunda tetap memberikan tugas sesuai dengan kemampuan dan kompetensinya, gitu? Atau, udah, apa di ada mentor, mentornya gitu, masih ada pendampingannya, gitu gimana Bunda? Kalau misalnya memang, ada dosen- dosen yang tidak bekerja sesuai dengan standartnya, gitu. Ya, makanya tadi, korreksi dari kita, karena ada, misalnya, ya, A-R-D, human resor terpartemen. Kita kan punya itu. Ya, apa itu di H-R-D, ya? A-R-D, ya? A-R-D dulu. Setelah A-R-D itu, minta, kita bagin wakl-wakl-drektur, itu bukan guna wakl-drektur, sesuai dengan job-joknya, wakl-drektur dulu, kamu amati. Setelah di amati, waduh gue, ini, ini, ini, ini, nge-tanya. Betul, kita harus ada pizza koloknya, yang tahu proses kejuan andi itu, seperti apa-labil, dan tidak, kan? Pisa kolok. Ya, kenapa sih, mikir apa sih, ya, kan? Dia pertanyaannya seperti itu, kalau sekolonya, ada bumbang apa, ada marah penggaliannya, sabarulah yang peker kita, nge-bun, ada kaya gini, ada rapport nge-bun, nge-nge-nge-nge. Ya, kita peringati lagi. Tapi kalau di peringati, tidak mempunyak, mempunyak lagi, ya tadi, kita suruh milik, dia kamu mau beroba, kenapa masalahnya? Itu sekolonya, nanya ada kejuan, kan? Tapi, udah ada sampe ya, ya, ada si kolok bunda. Si kolok di luar ya, betia. Ya, di, rumah sakit bayuan, si itu ada, kita. Betul ada sampe ada. Ya, kan ada test, dosen, ada test. Ya, ya. Itu kan, ya, ya. Bati udah di jalan ini, dia di setiap bunya. Jadalahan. Nah, kalau di bakti pertinian, jaman itu juga udah jalan. Tapi, kita ada gurunya dulu, ada di app dulu, juga ada siapa namanya dosen dulu, ya, dosen dulu ada si kolonya. Termasuk Al-Firah itu, dia itu sebenarnya, keperawatan, anak. Oki itu. Ada, dia keperawatan, anak sekolah itu loh. Nanti, kan ada bekerja sama dengan, apa-apa, itu kembaga. Terima kasih suah, ada kerja sama, kan? ada lemahkan. Kan sebenernya, bati pertinian juga waktu itu, kan, kita Bอย ki rumit dessus ada. Hmm, gitu kan? Ini boleh dilemajutkan. Itu pekerja sama dengan uai dulu. Berwaktu jamannyailnyaared, dan kadal-kadal assez suanya, kan? Kita juga ada waktu itu. Apa namanya? Thank you. Aku, thank you. Saya melalas 1.65. Menalui padu-pada juga. TPA. TPA. Menara 1. TPA. Spote itu ada itu. Jadi, kita kasih lebih pertama itu, biar mereka menghaya tidirnya. Dan dulu kan? Kita, bukan sama dengan menara 1.65. Biasi. Biasi. Biasi. Biasi. Biasi. Biasi. Biasi itu sosial. Itu bagus. Untuk pendalaman daripada penghayaatan dirinya dia. Itu bagus itu. Kamu sekarang, kenal-kenal agama hal dikit, tapi kita yang sanggu pengeluarin dayain, bermentur waktu itu, kita alomni-bunda sendiri itu alomni di merara 1.65 itu yang ginancar. Iya, iya. Ya kan ginancar itu, bulan alomni sana juga sebenarnya sampai angkatan memberapa, akan paling 5 tahun, kecil bukan kita, kita nggak bisa lagi itu. Bukan bagus sebenarnya, mengilurang sering dulu, bakti-pertiwi itu. Menbelakangan, dia juga ada ga mahal ya. Masih suakan, ada di tarik-tarik tabahan, itu nggak mau, kita juga kalau terakhir 30 ribu ya, satu orang, itu terbentur kita. Tapi padahal bagus lu, mendatangkan lu ada seownya, ada taya di dalam afirman dirimang Allah, jadi kita mengkongkaiakan diri kita dengan dasar Al-Quran dan pandis setah mereka-mereka kita bersikap ke dosen, juga mereka bersikap kegu, apa nam orang tua, dan sebagainya. Domest ini itu bagus, itu. Merti, ya berantem, makanya orang sekarang sering berantem membelakannya, nggak ada lagi skew itu. Merti itu, lakir-lakir itu bagus ya. Transpbbi Aitu. Iya. Kebersian juga ya. Kebersian, ya jiwa dan kolbu kita ya. Jadi kita, ya kalau sekarang kan ngelawan guru, kan dubiasa kayaknya, oh kalau kita dulu nantang mata guru itu nggak berani. Iya. Untuk kita sekarang. Perti itu, najaman berobah mungkin ini kali ya. Banyaknya pengaruh pengaruh dari jatah-jat. Terlalu, dirakira dari puna. Kita harus berani mengatakan secara profisional. Dan yang tadi mudah katakan teode-tori pada agasara pendidikan. Itu ya, intinya di situ. Dan kepada juga, apa lama ya, bawaan kita, atau dosen, sebenarnya kita kan tidak memarahi dia. Tapi memarahi itu perangai ya. Dan juga kita mendidik dia supaya dia kumpetan pada bidangnya kan. Itu lah kira-kira dari puna. Mungkinnya puna bantu. Palagi. Ini yang puna. Apa yang jadi, apa itu nama ya? Perbedaannya deh maksudnya. Jadi ke misalnya di desertasi haura ini kan mengutip etika professinya dalam pengambilan keputusan di puna. Karena kamu bisa dari teori-tori itu kan gak ada yang khusus specific bicara pada etika professikan kebetulan apunus sama peruakarta ini berangkatnya dari kesihatan awal bidangnya kan. Jadi kan perlunya itu etika professina. Menurut muda seberapa penting dan kira-kira penerapannya harus dimana di management kampus puna. Untuk apa penerapan etika professi terutama dalam management kampus itu. Iya. Di dalam profesi ya. Udah bicara profesi sekarang. Hususnya bidanya. Profesi bidanya itu. Karena itu sebenarnya itu sudah di kanam karena. Bagaimana cara bidan-bidanya itu mengamil suatu sikap? Iya itu ada di teori-nya di mana asuhan ke bidan-an. Bepadai mana perjalan pun kita harus udah ada. Kalau dulu, nah benar, sepaham dengan bunali li, karena kita sama-sama sepuguluan dari budi ke muliaan. Denktop ya. Polasi top. Dan polpekas itu juga. Melibur-melibur-melibur. Kita juga harus berani bersikap. Kalau kepropesi ini kalau dari dasar, itu agar reportnya. Tapi sebenarnya, adik ilmu yang konsep ke bidan-an itu perlu. Dan juga, kita selalu menangamkan skill, misalnya ya, dicur, basic-basik dan eticur. Selalu kita berpersan supaya ada yang diabahwa, kalau kita melurut agama islam, itu terakhan ini tadi. Dengan akal pikiran kita dengan benar dan juga teori yang benar, kita bicara tangan, kita menerjakan juga apa yang dasarkan dari kepala kita dan hati kita supaya selaras itu juga harus kita bawa dengan benar. Propesinya ya. Nah. Propesinya itu adalah sudah di pelajari dari konsep bidan-an. Kalau menghaya di itu insololo, propesi itu adalah ya sama seperti yang semuanya itu sama. Dengan dasar ketuhanan yang mahesan itu tadi. Terus kita kepotensi kita apa, yang kita kerjakan, ini apa, jangan sampai tercerahukum kalau kita melanggar. Pasti ada dapet, ya. Hukum ya, serahukumnya. Terus, ini bahwa menghasisnya mau dibok ke mana? Pasti juga ada, itu lah, dengan dasar teologis, guna yang tadi. Terus dengan dasar kita juga, misalnya, langsung filo-sophis, hukum, dan provis, progasi pisma dan sebagai itu ada. Jadi, kalau dia membawa secara ketuhanan yang mahesan etichut yang baik, terus ilmunya baik, dikerjakan senjara baik, dengan dasar yang ada, itu yang tegakan pada provis, itu. Dalam link karena tidak melanggar hukum, ya. Sudah ada standar-standar operasional pelayanan kita. Nah, bagaimana kiyat kita ini supaya kita ini provis, ini melaju, banyak raktor orang itu mengikuti juga, termasuk, misalnya, hal-hal komunitas kita, terus pelayanan kita, kita prima pakidak, itu banyak faktor yang membuat propesi ini, menjadi terpakaik. Ilmu-ilmunya itu. Misalnya, ini kita contoh. Bicara selalu hukum. Kita tak hukum gak mau. Ya. Ya. Ya, ngeri. Misalnya, mak posisi dan sebenarnya kita suka suka. Jatuh, gak. Jangan, jangan menganggak itu. Akibatnya hukum berat. Nah itu dan suat, awal tadi kan ketuhannya mengaisah. Sehingga kita, dan misalnya, ajarin berdoa dulu, sebelum nolong orang parte, sebelum mengerjakan jendakan apa kita. Kita selalat. Kita sendiri selalat. Ayuh, kita mulai. Jauh sebelum nolong itu. Kita juga harus dengar mau. Satu lagi yang penting bagi propesi ini. Harus tanggap dengan keluhan pasien mulai daripada ANC persalinan terus komunitasnya daritu sampai dengan dia itu. Ikut kabinnya sampai di immunisasi tanggap dengan apa yang keluhan panjang dia baik adubu albu saya gata. Tapi dia kaya wadilupan namakan itu kita dokumentasikan itu betapa pentingnya juga dokumentasi. Kau kita nggak bisa ya? Kan kita karena ada hak dan kwa japan, ada standard operation. Itu doctor, ya silah doctor, jangan kita yang sok tahu semua. Kita berjara hukum artikan itu. Bukan hak kita kita. Ini doctor anak. doctor anak. rujuh. Ini hak loggin. Kita Kerumasakit. Kerumasakit. Jangan nolong semuanya ngobuk. Kita mau duduk desi juta hein, 10 juta keluar rantikan, gitu. Kita akhirnya mendidik orang propesi itu supaya memegang lapisi kembali nengang dan berhasil juga mengerjakannya dengan tangan yang baik misalnya tangan yang baik itu ya kita sesuai kan pengetingga yang sehingga skill basic dan apa namanya itu itu cukup kita nih salah semuanya selamat dan kita juga kan kita nolong itu kan pengennya dunia walaahirat bahagia lakukan kalau mungkin tapi ya sorry ini yang ingin kepumimpin dunia seperti itu alhamdulillah sudah terbukti secara klinikal, secara teori dan klinikal ya ya demudahkan hauragya-demen yang handal nanti benar-benar akan jadi dosennya handal jadi menijemen yang top dan mulai semuanya itu tapi jangan lupa lupa rumah tangga anak-anak kita juga harus pandai membagi waktu ya ya boleh pokoknya sengah kita berbahagia semuanya kita bahagia ini bukan kamu sendiri bukan apa hidup ini gak lama beriaku dan percaya hauragya-bisa mau buat itu semuanya dengan baik tentunya secara tadi kita ingin seperti ayat aljung sebelum tadi dan lain-lain ya bayang semuanya sering karena intinya ngeri bunda adalah antara akademisi dan spiritual harus jalan berbarang ya buat apa kita tinggi tapi spiritual kita gak jalan kita kan berapa tahun gak berguna lagi ya dua aja mungkin ngeri bunda ya ada lagi mau pertanyaan kata lagi kata lagi ya kenalah apa kunda yang dihadapi di dalam meninggalkan kinerjado sen bunda nah itu tadi dari awal bunda berjalan kenapa kita bawa kerja itu ke keluargaan jadi tari ulur layang layang ya tari ulur seperti kita main layang layang terakhir kinerjado sen ada ke balik lagi kalau dia itu agak susahnya kita itu kalau orang itu awalnya itu dia ternyata membina orang itu susah susah nah ternyata ini tadi kalau bunda bunda lebih suka untuk demokrasi terpimpin terus ke keluargaan bersahabat jadi dia bersahabat dengan semua orang kita baik dan bersahabat semuanya kita karyawan kita ram rancul semuanya nggak bisa munjukkan salah satu oh sayang mainnya nggak kita dibanggalkan apaan itu kan enak masnya pengeran gitu ya jadi kita langsung walaupun ada di balik itu ya udah mudahan kita ga ada mereka rancul kalau memang dia pandai lama-lama tadi kan bunda yang ke keluargaannya dari awal penting juga misalnya ini dia ada kedukaan demuru ada apa kamu kaya dia merasa diperhatikan penting rancul ada apa itu balik cerita kalau kita ini cepah kumpangnya lama wadir kalau kita ga sama wadir kurikulu kuda anaknya gini terus ini cepah kurikulu yang dibahas lagi sebelumnya itu kan di mana kesulitan salah kalau ada yang seksur kita terakhir apa kita belajar dari keberhasilan ya jika bunda apa sih banyak yang bunda saya terlalu muda-undahan anuh ngukus ada bawaan gitu yang muda gini makasih bunda juga merasa bagian daripada juga jadi istri yang sole anak yang anak-an sole ha istri yang sole anaknya sole semua dan juga soalnya ada berbahagia dunia dan bawaan itu berbarang salah yang bunda sih semuanya terlalu makan malam makasih banyak yang bunda terlalu salah ya siakan ya