[ Mini Kiebo ]
Server: Windows NT DESKTOP-5B8S0D4 6.2 build 9200 (Windows 8 Professional Edition) i586
Path:
D:
/
Download
/
[
Home
]
File: wawancara bu armi.txt
di ger Ributwa, untuk menggunakan masyśa yang hadir Tisch di lagu- sigue. Saya menin向ok um wheat, kan. Yang dengan makro gyur ya kan? Kalau puluh dia, kaya RIP-nya biar lebih banyak saja di bahasnya gitu ya. Kalau program, memamatuh, prodio-long itu karena memang baru beberapa tahun yang buyah. Dan mereka juga yang memang sudah menuduskan, ada yang belum, dan ditambah ke prodio juga memang baru bergabung lah gitu. Ada prodio yang kemarin, tengah-tengah keterima di mana? Teranggirnya, rolin, mungkin belum ada gambaran. Yang paling banyak adalah di kebijanan, gitu saya sendiri, memang dulunya di kebijanan, akhirnya kita berubah untuk masuk ke sarjana dan profesi. Kalau dilihat dari program, mulai dari perancangan, biasanya kita ada kontrak, apa ya, mengenai rapat kerja program. Yang biasanya kita menghadirkan dari wakil direktor doseng, terus juga direktor, ataupun doseng tamu yang memang akan kita gunakan. Jadi untuk mengdahas apa, terkait dengan beberapa level, karena sekarang sudah ada tiga-satuh, dua-tiga, granya gitu kan ya, terus juga ada yang non-regular, ada yang profesi, masih banyak sekali pada saat di awal program tadi. Dan kita pun biasanya nggak satu hari, apa namanya untuk membahas program, karena kalau kita campur-campur ada yang reguler dan reguler-provesi, kan ya udah simbaman gitu ya. Walaupun kita dilihat dari doseng yang satu prodio, udah tercikumi, tapi tetika masuk ke pembelajaran program, semuanya dalam satu lingkung yang sama, baik sarjana, ataupun profesi gitu. Biasanya nanti kita di situ mencilaskan saya sendiri dari kprodi, bekerja sama dengan wakil direktor, biasa yang berbesos sih, sesuai dengan revolnya masih masih. Tiga-satuh, misalnya disemasar dan cil, mereka pertama kali, karena memang distribusi dari mataholnya juga sudah ada di kuri puluh. Biasanya kita lebih menggali, terkait dengan persiapan atas. Biasanya kasiap, ataupun RPS itu harus dikecil kembali gitu ya, biar yang sampai mau pengatahuannya, tengah-tengah ini cocetangan, udah berubah jadi segini ya, biasanya itu siang kita. Apa namanya menggali lagi, terus ada kegiatannya pas aja, yang biasanya karena kita pokasi, jadi ujian tolis, terus ada juga prape, prapeknya karena memang kita juga laboratorium, tidak lengkap untuk di luar dari kebelianan, apalagi tingkat satu kan ada anatomi, ada mikrobiologi, jadi kita harus menyapkan dari awal program, terkait dengan mau kerja sama kemana gitu. Jadi kebetulan, hari ini juga kami ada prapek biologi dasar dan mikrobiologi. Karena minyem di kampus lebih gemuknya itu, laboratorium kebedangan. Jadi kita bekerja sama dengan lebekas jahat, akhirnya mahasih soat, bekerja sama apa, bisa prapek disana untuk mencapai. Prapeknya, walaupun lengkapnya kita bedan, tidak berkecimpung banyak di mikrobiologi, tapi kita harus bisa. Ya, ada basic lah gitu ya, jadi ketika penempatannya nanti di rumah sakit, mana mungkin bisa, jadi satu gambaran. Jadi bukan bisa, akan tetapi memahami ke levelnya, ataupun misalnya ada gambaran, kalau untuk bisakan, berhenti kita, tapi ada gambaran atami, kerskopnya gini, walaupun kita seringnya kan nanti, artulsel, tetapi ada tembaran lah itu. Itu yang biasanya kan disiapkan dan membagi topoksi, ada prapek biologi desa, rati koronaterakin siapa. Dan pembagian, apa namanya dosen pengampu? Matakul ya, karena kalau dicara dosen pengampu, disitu ada tim yang memang udah, apa namanya, di susun, terutama doset pakanya siapa, gitu. Karena kan itu yang memang gak kita kuasai semuanya, sautahnya ada matakul ya, biasanya semesor satu, ada matakul ya, gama. Kita selaku dosen koronator, memasilitas dosen luar, gitu ya. Disitu juga, kami bekerja sama dengan istitus silain, untuk mencadikan dosen matakul ya tersebut, sebagai tim dari matakul ya, gama mungkin, bubidan, aja itu juga yang uyen. Alam Nila, kami juga bamyol dosennya, yang memang sudah ada serdo, ada karya buku, sampai beliau juga banyak diskusi, bagaimana berkaitan dengan abortus, gitu. Karena ya, tapi disambungkan dengan secara agama, itu semperti ala. Jadi kita disitu ada programnya, gitu yang dibelahas, terus juga setiap level pasti akan berbeda, teknisnya sama si bub. Kita membicarakan bagaimana terkait dengan ucian teori sama praktek-t praktek, terutama oscil, jadi jangan sampai capainya, masih soat terlalu lebih. Ketika memang capainya lebih, kita memiliki oscil symbolan station, ternyata pilihan kompetensinya ada dua belas, akhirnya ada yang kita kocok, gitu ya, bia-bia. Yang tinggal mereka semuanya harus kompeten, harus bisa belajar, tapi pada saat ucian, kalau kocokan kan, kan bisa tembaknya bukannya. Gitu yang semuanya resahap ala, gitu, kita masyarakatnya seperti itu sih, bu. Disusuaikan dengan red levelnya masih ngasting. Selain itu, tadi, praktek, setiap tahunnya, cula masih soat reguler, dosisnya itu selalu bertanggung. Ketika angkatan pertama yang 19 orang, kita cukup lah di perwakan, ya, tapi kalau sekarang 40, bahkan sampai ada yang ke 50, kita sekarang sudah TPMB-nya yang kita gunakan, rana yang sampai ke Karawang. Karena mengingat di perwakan tapun, untuk yang membuka kolestikan masih minyamun, sesuai dan keunggungan. Jadi, kami pun bisa bekerja sama, dengan dinas ke sehatan yang memang di luar kota, untuk menunjang tadi, gitu, untuk yang program. Nah, disitu pun, otomatis kita punya capain tersendiri, ya, bu, ya, disetihap tahunnya, mereka harus, kita harus bisa apa, dari yang sebelumnya ternyata, oh, ini capainnya ada disini, ternyata kurang, mahasiswa, gitu, balagi yang reguler, apa namanya belum begitu banyak, ya, bu, ya, kalau yang yang reguler kan, ketika bahas kasus, mereka kretikal pengewnya udah, apa namanya? Jalan, ya, kalau masih sarai, gula kan agak sul, gitu, ya, apa lagi kita fokasi, jadi ketika di persiakan, di Sarjana untuk profes itu, memang benar-benar berbagai metode yang harus kita berikan kepada masis, so, itu pun dibahas pada saat ternyata, jangan sampai di RPS itu, yang kita implementasikan, cahamlah, gitu, kan, ya, asal-asal ternyata, dia juga boleh disudah sampai, kan. Jadi, kita juga berupaya untuk meningkatkan hasil dari apalagi, kemarin sudah mau nyebutnya, ya, hasil dari asal ternyata, ada pelatihan, bakerti. Nah, disitu juga kami, hipot, serta, untuk pelatihan, untuk kerti, dan kebetulan, kurik bulung, karena sarjana pas sampai di ngoling mata aku, disauloh setelah sarjana, gitu, angkatan pertama lulus, kita juga akan, malah, apa namanya, menghaji kurik bulung, karena patokannya kan, reguler lulus dulu ni, biar habis itu, kepaket sama yusur, bagaimana bisa terimplementasi kan atau tidak. Karena kalau kita bicara mengenai non-regular, pesantasanya kan sedikit, ya, ya, nggak semuanya dikupas api seperti reguler, gitu. Jadi, itu yang memang akan kita rancan akan. Biasanya, tadi sudah di rapat awal, akhirnya pada saat proses, ada hotes, wah, sedikit ya, ya, kita menghaji, bukan hanya dari nilai, dari ketercapayan, mahasih sewa itu mendapatkan, apa namanya matari sesuai dengan apa, gitu, biasanya, karena memang disini dosen, strukturannya lebih sedikit, dibandingkan langsung purnal, ya, ya, jadi mungkin ada beberapa jadol yang memang, ada suka schedule, karena ada kerjianan, misalnya, sekarang barunya ada jadol, saya ternyata kebetulan berapa, nah, itu kan berarti harus dikantikan, nge-deseng lain, yang jadol sedangkan, kalau kita merubah dosen lain, atau matis kan akan merubah matari, ketika kita ternyata merubah dosen, matari yang enggak berarti persiapannya, bagaimana gitu, ya itu mungkin yang menjadi suatu pendala, gitu. Nah, terus, ada yang mamanya, nanti ucian tulis. Itu biasanya, di ucian tulis pun, kita ada rang patokan untuk lulus, gitu ya, lulusnya kebetulan, kita juga ada 75, bukan di batas minimal, bekerja tetapi enggak lebih tinggi, karena saya berpikirnya, apalagi kita sewasa, gitu ya, boya apa yang mau kita jual, ketika dia mau melamar, keromaskan selain skill, keterampilan pasti nilai pun akan di lihat. Apalagi nanti mereka di profesi, harus uciko potensi, diambilnya 60 persen yang ada sarjana, gitu, karena sekarang kejadian kan, yang tidak kompeten itu, sarjana yang memang kurang dari sekian, gitu, tapi kita juga tidak mau luk, oh ini harus nilai pekannya segini, diap, bukan akan tetapi bagaimana, nilai batas lulusnya kita, gikah, ya gitu, buka. Kalau nilai batas lulusnya di grade B, yang paling minim, atau matiskan, peka juga akan ini ya, bu. Emang mengajar masiswa, nilai batas lulus yang lebih tinggi itu, lebih sulit ya, huya, gitu, tapi kami lebih, apa namanya lebih puas ketika melihat masiswa, ternyata bisa sampai dengan batas lulus yang tinggi, walaupun prosesnya tidak sama, enggak cukup satu kali, ada yang ramai lagi, gitu, sampai dua kali, gitu, itu biasanya, di ada di Ujian Torius. Nanti, di akhir, selain ada teoris yang merakta tadi, ada laboratorium, itu biasanya ada ucian-postion begitu, nah, di Ujian Oster, kita untuk mengukur dari ketarampilan, karena mereka lebih suka praktik ya, huya. Nih, walaupun kalu jantung, gitu, padian praktik, gitu, jadi di situ berupaya, dengan metodeu Ujian tadi, mereka bisa lebih siap ketika di lapangan, yang kadang-kadang berpikir, kredit-kletingkin pada sangat penting, gitu, ya, jadi, kalau misalnya ada perdarahan, buidanya lelatkan patah lagi dengan metodeu Ujian tadi, berupaya bagaimana, kita juga mencetakan yang memang terampil, gitu. Nanti biasanya, di akhir semester sebelum hadapi uas, kita juga mengkaji kembali tadi, ke tercapayan materi, awadernya, ini udah 14 kali pertama, tapi kok materi ini belum, untuk harusnya materi ini, di ini, tapi kok kenapa jadi ada yang belum tercapai, gitu. Kita mengkaji kembali apakah subtopiknya, telah lumanya, pokoknya kita cukup, atau kamemang metodeu, ini datang terlambat, akhirnya tuh doosnya, ya, kakak itu kakak diperdosenya, ya, mengkaji kembali yang selesai, udah jatuh lakuin, maksudnya belum pasti, ya, gitu, kita kakak cik kembali kadang-kadang, kadang-kadang, eh, ternyata, jaduh libur, kan harus kita ganti-kan juga, gitu, ya, nah itu biasanya, kita kakak cik kembali, terus ke absensi, mahasih suar, dosen, kita kakak cik kembali sebelum ke uas, gitu. Jadi, habis itu baru, dia edahkan uas, biasanya bagi mahasih suar yang memang absensinya, kurang 75 persen, kita ada pengengatan bulu-bulu, ya, biasanya, jangan sampai, ada deh langsung menghadapi, soal ujian, tapi dia ada yang, udah langsung, gitu ya, awalnya penyakannya kan gak pahang, gitu, jadi akhirnya pengengatan bulu-bulu, disitu, ya, disitu baru ujian, ah, kosca dan juga ujian tulis, nanti praktek ke lapangan, jadi habis itu, biasanya sudah semuanya, kita ada pengumpulan data, ah, di lain-lain, terus kita, apa namanya kita, analisis kembali, kalau lapangan itu kan, lebih berperan banyak, kasi ayah, ya, dan, banyak juga, si ay, ternyata yang tau uka, tapi gak tau nama, ah, akhirnya waktu itu juga, yaudah, di lembar penyelayannya, kita teman-teman yang potomasi masing, kadang-kadang kan tau nama, tapi yang mana ya, gitu, akhirnya nilainya kan, itu subject nih, ya, kita juga salah satu-nya, ah, bahwa sih dari, itu, nanti, akhirnya kita rapat judisi, jadi, jangan sampai, ah, pasti, ada, menghasiswa yang, remedial, ada yang dua kaya, tiga kaya tapi nanti, jangan sampai, pekanya, kalau lebih tinggi yang remedial, ya, akhirnya kan, tadi batas lulus, yang kita jadi patokan, dan mataholeah, intik, menjadi satu prasarat, yang mana, ya, kalau askopnya sampai dua kali nih, gitu, kan, tapi ini satu kali, keaktifan yang sebagainya, itu biasanya dia rapatkan prasarat, ah, apa namanya, jadi sih, sebelum, jadi sih, kebetulan, untuk yang regulasi, waktu itu bukan baranya, kalau untuk yaman regulasi itu, karena mereka juga, ah, dia tempatkan, secara beli di dalaming yang bu, ya, ada online, tetap nuka, gitu, kan, ya, omenya, untuk mengkaji yang peori, tetap nuka yang, untuk yang rapat ke sini, gitu. Terus untuk yang professi, awalnya ada matrikulasi, itu secara darin, rapatnya, kita bisa berkunjung asum untuk, ah, apa namanya lapangan, nanti ada osc juga ke sini, di setiap semesternya, ada pesantasi kasus, terus juga ada, di akhirnya, ada sidang, untuk yang cokset, dan setelah itu, bagaimana, walaupun mereka, sudah terpapar kasus banyak, gitu, ya, ya, kalau mudah, mereka soal, kata kunci, harus berarti apa, jadi lama, sedangkan matu biasa, satu-satunya, di akhirnya, kita juga ada tutor, gitu, sebelum mereka nanti, ujuk kepetensi, sekelas saya, semua akademi, bagaimana, tetap yang terapak, yang professi ini, kita ada tutor bulubu, yang memang dimana, untuk tutor yang tadi, kita juga bisa mengadok dari, berubu prim, yang professi, lalu, datutor, yang memang, saudara kan, lalu secara internal, sebelum, nanti mereka dihadapkan, dengan triods, secara nasional, atau kunci, kepetensi, di situ, di bahas yang pertama, terkaitan-tertip, jadi, yang sampai, nanti mereka, kealbiet pada saat, triods nasional, otel-hari, otel-hari, harus di screen suit, kebayakan, ibu-ibu, ibu-ibu, itu, apakah, tep, tep, aru-ibu, aru-ibu, aru-ibu, aru-ibu, aru-ibu, aru-ibu, aru-ibu, aru-ibu, alhamdulillah, untuk di, yang kemarin, pejikom, itu, kita, udah pakai si biti warbeng, seperti yang lain, kalau, awal, masih gue gilpong, gue, ternyata, gitu, nah, untuk yang internalnya, udah pakai si biti menawudahan, untuk... timbel, timbel, ya, ya, askaran juga, bundai juga, sudah mempersilitasi, ada 80 komputer, yang memang, rencana-nya, nanti akan dilakukan, triods secara internal, yang awalnya tadi online, berarti nanti mereka bisa ke sini, untuk triods secara internal, gitu, biar bisa, tergambarkan langsung, oh, megang mostos, pati ini, kadang-kadang, kalau yang ibu-ibu, udah nana-nana, ibu-ibu, gimana secara megangnya, gitu, ya, jadi, menemudahan bisa tergambar kami, dengan adanya, pasti, memang baru saja, selesai di visit langsung, gitu, nah, terus, selain tadi ada internal, kita juga, mendorong, karena triods itu tidak wajib, jadi, mendorong, wajib-wajib, melakukan bimbal, diluar dari kampus, sekarang, banyak kedaya-wajib, saya juga, setelah, baru mengikuti, progresi buat, kan juga mengikuti, bimbal, diluaran sana, kita kememang, kita ke kampus di, ada kan, ada, jadi, kalau yang ini kampus itu wajib, kalau, untuk yang diluar kampus itu, kita kembalikan kemahasih, karena, saya itu selaku, dosen yang memang biasa, mengapa ini, membuat soal, kadang-kadang, kalau membuat soal, udah terlalu banyak, yang muda saja, jadi, sorry, gitu, yang muda, jadi, dengan adanya, mendorong, hasiswa, untuk mengikuti, bimbal, diluaran kampus, dan mengikuti, triods nasional, karena memang pada, terlalu wajib, tapi mendapatkan gemeran, apa namanya seperti apa sih, soal soalnya, makanya, makanya, gitu. Alhamdulillah, sih, selama ini, mereka juga pada, banyak itu membuat, nah, pas nanti ujikong, itu, Alhamdulillah, dari, angkak lulusan pun, selalu di atas 90, tujuhnya, dari sekitar 90. Untuk, ya, walaupun ada beberapa, ya, wuyak, kalau saya kajik kembali, juga bersama, hubudaris dan kata-kataan, itu, yang memang, ipekanya, kurang, kalau jaman dulu, ipekak, kalau jaman itu, itu, itu, itu, itu, itu, ya, wuyak, kadang-kadang sama itu, selalu di alal, pada saat input, memkajik, transkip, sarjangnya pun. Ini, dua koma sekian, berarti, harus reksi kodi, ketika hitaman Rima, nanti, hasil ujikong, seperti Alhamdulillah, kalau kita terima, ada, program apa nih, kakak lebih, diperkuat lagi, untuk yang ini, minimal bu, ini ipekanya segini, harus belajar di, banyak lagi di, untuk persihapan pun. Tidak meletupungkin, nanti, ipekanya kecil, ia kemar ke, dua koma sekian, ipekanya, ternyata dia kompeten, nilai ipekanya, nampil, ternyata tidak kompeten. Berarti, dia hajar mengandalkan dari ipekasai, ya, hasilnya, ya, ya, ya, Jadi, ujumpong pangknya, karena memang di propesi, gitu ya, uya, akhirnya kompeten, nanti kita kompeten. Cuman, ya, disayangkan, yang kita rasakan, mungkin bukan saya aja, juga itu yang lain juga sama, gitu ya, kami itu, ada beberapa retekar, karena, ujumpong pangknya, itu selalu di sarjana, ipekak, gitu ya, uya. ipekak kecil, ternyata tidak bisa berubah, bisa berubahnya, dari mana, ya, dia harus, ya, ya, ya, ya, ya, ya, ø, semua tak dimentaman, ada veure alors, nggak berapa lagi, bror air yang mereg-3, ya, tapi turuan, masih 1%, 2% itu kan? Nggak itu juga, cuma 1%. Hanya Яbbungan, memang, ipekak ini ya, kecil, dan berubah dari sarjana kami, ya, ya, acha tauね, di akhir itu, selalu, mungkin kan harus menyesinya lebih banyak lagi ametung, tapi kan membantu ya, cuma 40%, 60-nya kan di situ. Selalu tau okornya kan itu, coba kalau nesat tau okornya bukan di sarjana, ya, dia ambil, ipekak propasinya, berapa persen, jadi makas lagi, pintu berubah, ya, itu juga asutnya, ada diskusikan ya, sama, pada saat kita pertemuan, ya, cuma sampai sekarang, belum ada titik temmu ni bu, sampai kasus yang tadi, tiga, orang tadi, karena kita nggak bisa merubah, walaupun udah ada tutur bu, pemawatan, gitu. Kita yang opa yangnya, apa untuk masih sota, dia ada pemawatan, lebih extra lagi, gitu, ya, makasih suaya. Sudah, nggak mau kuliah lagi. Oh, nggak, kalau untuk ngelang lagi ke sarjana, kan? Nggak ada bu. Resentres di professor. Ya, marahnya, merambutkan dari organisasi, juga bisa mendengarkan peluhan kami, gitu ya, bu, ya. Misalnya, di tiga, kayak satu, tapi, kayak RPL, gitu, pro, itu nggak, harusnya ada, kesitu gitu, ya, eno pasiknya, ya, kayaknya, tapi kan tau, kan? A.J, buat ini, itu. Tapi kan, intinya, kan? Nggak, nanti aja walaupun, nanti walaupun sendiri. Jadi, intinya kan mereka, maksud LPL, ataupun apakan, harus balik lagi, masuk ke sarjana, gitu. Ya, buat untuk menggantikan, kalau kebijakan, ya, di persentasanya, 60 persen di sarjana, gitu. Jadi, pekannya, lukomestian, gimana mau menikatan, dia pengen lulus, berarti pelihannya, ya, udah masuk sarjana, lagi, gitu. Iya, gitu, ya, itu, apa, RPL, waktu dia juga, tugas ugas, ya, tapi, ya, ada baga tiga kali, tetahun juga, ya, betul, kalau secara, untuk kita memilih RPL, atau tidak kan, gak mungkin hanya satu, gitu, yang gue satu orang. Karena, kalau kita bicara, mengenai RPL, itu kan, harus terenuhi, sedikit dari, pelaporan aja, harus masuk ke siara, kita belum bisa masuk ke siara, karena belum ada lulusan ini, Oh, maksudnya, di modelnya, RPL, tapi reguler, gitu, entahkan, dan kalau dia tiga, kali kan, maksudnya, ya, ngomongkan, dia belajar di, ya, tapi harus dipenuhi, gitu, dari, sarjana, jadi, nah, ya, dari bunda tuh gimana, gitu. Apakah, maksudnya, udah laikutin aja aturannya, ya, betul. Mungkin, kenapa kami tidak berpikir, di itu, masuk ke RPL, ya, karena kalau secara sistem, memang tidak ada, ini, ya, untuk di RPL, ini satu. Hey, ini dia kesepas, selanjutnya. Selamat malam. Selamat malam. Selamat malam. Terima kasih, selamat malam. Selamat malam. Selamat malam. Selamat malam. Selamat malam. Selamat malam. Selamat malam. Selamat malam. Ya, batokannya dari situ, yang mereka tentuannya kan, memang belum, ada, ada, ada, selanjutnya, untuk diakui, dari, sedih pengalamannya, gitu, ayah, ya, maksudnya, ya, maksudnya, kalau ya, dari, satu tahun, ya. Nah, paling terlumsanya, ya, dia datang lagi, maksudnya, sekolah, dia datang lagi, ya, mungkin, kami juga, batok di situ tadi, karena mereka juga lama-lama kan, satu-satunya, satu orang sih, ada temen-temennya, atau ada temennya kan, ada temennya, ya, salah satu orang tentang, ya, dia udah pengen ikut, ternyata kerahnya aja, udah ga mau. Mudahkan gue nilah, maksudnya, masih mau lah, cuma saya juga, gak tau nih ketika, memang udah, ini tuh, responnya gimana gitu, ya. Sama-sama. Iya. Iya. Iya. Iya, iya. Iya, iya. Sekarang, ujup bombaknya tetapi, walaupun kita bener-bener, bener-bener, ya, karena memang ujup bombaknya, tadi, ujup potensi, atau enggak sih, ya, udah, ya, lu ya, kalau bener-bener, itu kan, ternyata-nya, uh, komunikasi ya, ya, mungkin, ngangatannya tuh kita harus bisa membangun sistem, secara online, jelas, untuk programnya, RPS apa, dan sebagainya, tutorial, video, dan sebagainya harus terampung dalam satu rumah, yang memang berbasis dikitalisasi. Tapi, kalau kita balik lagi ke ibu-ibu, absen aja, ya, kayaknya, rebet banget sih, terus pakai kayak gini, gitu, harus kita buat, sadar, udah dikitalisasi, gitu, sebuah, kalau ada berapa hangat-ang dari program. Kan, aku udah dapet, makasih banget, gue udah petetel, ya, maksudnya, alur prosesnya dari program-programnya, ya, karena, kalau misalnya dari sisi-sisi, ya, pandangan, ya, muda nih, sebagai pimpin, ya, incarsnya tuh di mana, dari alur prosesnya, itu dari mulai, awal, sampai akhirnya, emang air-falluasi, itu di, dimalanya, gitu, gue udah tuh, oh, monitor, bisa di sini, ikut anjil di sini, banyak di sini, ya, ya, jadi perancangan, yang gelas, bunda juga, kita juga harus menyatuh juga, ya, ya, programnya, selain bersama, boleh aslaku, wadir, akademi, jadi bunda juga di situ, biasanya, kita persentasikan, yang biasanya, bunda, kan ini, itu terutama perbedaan, cara regular, dan non-regular, jadi jangan sampai, emang, ini enggak usah nih, metode seti ini, memang usah nih, gitu, untuk yang non-regular, gitu, jadi apa, otaknya, yang membedakan, di sarjana itu, jangan sampai levelnya, dan ada tiga sama, gitu, jadi, di perancangan, semua yang kita bahas, masukkan, dan sebagainya itu, bunda juga, inggun, serta, pada saat proses, bunda tidak tergur langsung, kita, tapi memberikan, apa namanya, memberikan, setiap ada masalah, tentu lainnya, kita berikutnya, gue direktor, dan memberikan, saran, gitu, data, data, gitu, misalnya, bund ini, kayaknya, tempat-trak, kurang, banyak banget, gitu, kan, kita harus cari lagi, peserta, tempat-trak, dan persepter nantor, salah-satunya, jadi dikenacuan, jadi, sentanya, kita juga mau mengadakan, batihannya, untuk persepter nantor, karena mengingat jumlah si iPhone, harus nambah, gitu, nantor, nantor salah-satunya, dan akhir, pasti bunda juga minta, gimana nih, yang pemeren, ada masalahnya sudah, apa namanya, sudah diselesaikan, hasilnya, bagi mana, gitu, jadi, seperti halnya, apalagi regular, walaupun saya, sudah ada pengalaman di 3, tapi beda level, gitu, ya, pasti, masih perabanya, apalagi regular ini, kan, mau meluskan tahun senara, gitu, jadi, kayak pemerenai, jabung ini, kita harus cibi, gitu, karena, mereka tuh, akan cibi, pada saat profesi, gitu, nah, karena ini belum siap, untuk pemerenai masih, bisa tasi, kita pakai cibi, tapi, pasti, masih, masih, dulu, kayaknya sudah kelar semuanya, kan, bisa digunakan, jadi, ada, pasti menenakan, hasilnya, itu bagi mana, itu. Oh, nah, kan, ini terlibat ya, maksudnya sudah, batikan detailnya apa, gitu, nah, di dalam prosesnya, yang dibutuhkan sama bunda tuh, apa, ya, ketika prosesnya tadi, kan, kayak monitornya, ya, ya, apa aja sih, biasanya dibutuhi bunda, gitu. Yang bunda, pengen tau, itu pertama nilai, udah sejauh mana, masih suatu, bisa, apa, namanya, dikatakan, kompeten, tidak kompeten, itu, besar atau tidak-nya, itu dari pertama nilai, gitu. Terus yang kedua, bagi mana terkait dengan SDM-lu, ya, SDM untuk menurut mereka tadi, masih suatu, salah satu cumpahnya, ketika, kenapa nilainya segini, atau mati, ada kaitanya dengan SDM, SDM bukan hingga dosen aja, beberapa rata riyong, gitu, ya, ternyata, ini, gak ada makanya masih suang, gak bisa, gitu, ya, ya, nah, terus SDM tadi, bagaimana dosen, gitu. Terus, selain itu, mungkin bisa dikacik kembali, ternyata yang memang sudah kita ada masalah, di rencanakan, ternyata, gak ada aktif ini, gitu. Jadi, itu buat bahan kajian untuk kedepannya, pasti kan, kalau masalah, ada yang beda, gitu, ya. Jadi, mungkin kalau di prosesnya, seperti tadi. Ya, kalau sih, bener-bener ikut terlibat, ya. Karena kita juga, memang, ya, ada masalah kecil apapun, ya, pasti, melibatkan di rencun, gitu. Tidak hanya cukup di bagian, waktu di rencun, saja, kernakan, ternyata, mengingat, ini masih baru, gitu, ya, bu, ya. Jadi, pasti, apa-nya butuh sekali, pendapat, dan selain itu, juga, masih suat juga, banyak, gitu, ya, bu, ya. Jadi, salah satunya, selalu kita lakukan masalah yang kecil apapun, kadang-kadang, kita juga memang urgen, malam-malam, juga kita bisa videokol, ya. Ya, ya, sama videokol, ya. Ya. Kita juga, kalau yang urgen itu udah, asum, saja, gitu, bu. Jadi, biasanya sih, salah satunya, itu ikut ya, bahwa, dan pada saat urgen itu, yang dibutuhin, datanya semua pendapatnya, pokoknya, mendukung untuk, apa-apa-apa-apa, masalah itu diminta juga, ya. Jadi, bundanya mendengarkan si pukut dikakitada, bu, ini, gini, gini, gini, gimana ya, bu. Nah, kalau gini, gimana, enaknya, kayak gimana dikenberin lagi, juga, gitu. Tapi istidanya, bunda kan mau tahu ya, ya, di mana, bunda memang beda-padanya. betul. Jadi, walaupun misalnya bunda ga sepaham dengan kita kata orang bawahnya, jadi kita tahu medannya, ya, itu, ya. Itu teknik, ya, gitu, gini, kan pasti ini, ya. Ya, bunda biasanya kita tampil, bukan membicara kan bund, ini, di lapakannya, begini, begini, gitu. Kalau misalnya, kita lakukan seperti itu, ada dasar, gitu. Misalnya, ada, oh, bunda ini ga bisa dosen, segini, seperti ini, ada peraturannya, gitu. Jadi, ada bukti-duknya, ya, gitu. Baru nanti, oh, Karena kan tadi bu, karena kan bunda kan, ada posisinya di atas, kalau, kita kan adanya di lapangan, gitu, ya, gue jadi tau lah, minasusnya plusnya tuh yang akan terjadi, kerepanya tuh, apa yang penting, kita menyodorkan dasarnya ngelogor, mahasis waktu kita segini, dosennya segini, peraturannya segini, jadi, dan itu dia kemudian. Itu, oke. Walaupun, bertahap yang gue ya, ya, karena kan untuk mencari dosen, aja kan, kita udah berupaya, tapi kan kalau, itu kan susah juga yang gue ya. Ya, tapi kan, ya, ya, ya, ya, gitu, gitu ya. Apa lagi semuturnya, di kita sibu di Perwakarta, gitu kan yang lebabnya, orang juga kan, belum terlalu mengenal, ya, atau tak, di Perwakarta, gitu. Apa lagi, polbapnya sendiri sih, walaupun misalnya, kalau, sampai makasih, mungkin kan sudah mendengar, ya, kata masih, gitu. Tapi untuk yang lainnya, juga, ada masih mendengar ya, gitu. Wila ya, kita sendiri aja, polbapnya, ya, gitu, polbapnya udah besar, tapi ya, tetap aja masih ada yang, belum mengetahui, gitu, ya, kadang-kadang disini juga kan, pulokan dari sebuah kayak dapen siwan, gitu. Karena memang, orang-orang dari sini, yang penting terlaluar, betul-betul kan terlihannya, puluhan kotak, mana, gitu. Ketika sudah berusia, balik lagi ke kampung, gitu. Jadi pemanuhan, ASDM ya, ya, ya, ya, masih soalnya banyak, sama, sampai kaya di Jakarta, gitu kan, sementara, lokasinya, pasti memilihnya, oh, kata-igis lah ya, apa, gitu kan, pertimbangan lokasin lokasnya, itu jadi tantangan ya, ya. Tapi kalau bicara dosel sih, memang lebih praktisnya, apa ini, tetapi kalau masih suar reguler itu, kembaliannya, jujur, ah, ga mau di perualkan lagi, kuliah. Ayrinya dia, maksudnya untuk, keluar kamu paten gue, untuk yang lain, untuk yang reguler, gitu, untuk yang reguler. Misalnya dari ASDM, maksudnya, ya, karena sosialisasi, bukan ke sana, yang memilihnya, kebandung, kejakan lah, gitu kan, tidak memikirkan kos yang akan di keluar kan, ya, karena harus mengkorsi, mana gue di puluh kata kan, ini pada hal, kita ya, akan ditasi sama-sama, gitu kan, sempat dihari-hari waktu itu ya, kita sosialisasi itu, kaya, ah, puluh kata, gitu loh, jadi pengennya, merakatu keluarga, karena mungkin, mungkin ya kan, saya itu nanti, dahin gitu kan, ya, ya, tapi dari kata-lampung, tidak menetepungkan, berpedirkan gitu, ya, kita juga banyak yang dari keluar kota, buk, ceang, juur, untuk penggular ya, betih, israya, pasarnya itu, di luar kola kata, tapi kola kata sendiri jaringnya, di luar kata, tapi yang banyak juga ya, maksudnya, ya, banyak ritas, memang iya puluh kata, bu, tapi, ketika memang kita sosialisasi itu, contoh, kita masuk ke SMA-1, puluh kata, gitu kan, lebih memilihnya, ah, apa, ansi, gitu kan, puluh kata, dengan saya puluh kata, maksudnya, maksudnya, masih d3, kita kan ya, itu udah baik sekali, tapi, karena berpimilirnya, ah, ini udah level SMA, pemasih di kota sendiri, gitu, di pengennya, ah, gitu, maksudnya, nanti kerja, balik lagi, gitu kan, maksudnya, maksudnya, maksudnya, itu, ke luar, kelianya di luar, ketika itu, sudah sukses, sosial di luar, baik-baik lagi, ke sini, ketika sudah tuar, kita dekatnya sama bandung ya, ya, ya, ya, jadi lebih memilinkan, ya, kalau apa, kejakar, gitu, kalau, maksudnya, maksudnya, maksudnya, maksudnya, ibu, ibu, ibu, maksudnya,